Samsat Nganjuk: Pengkhianat Amanah yang Menjadikan Pajak Rakyat Sebagai Ladang Peras

Hallo Polisi 16 Jul 2026 16:14 2 min read 130 views By Redaksi

Share berita ini

Samsat Nganjuk: Pengkhianat Amanah yang Menjadikan Pajak Rakyat Sebagai Ladang Peras
Samsat nganjuk siber pungli

NGANJUK – Ini bukan sekadar kelalaian. Ini adalah pengkhianatan terang-terangan terhadap rakyat yang sudah taat membayar pajak. Unit Pelayanan Samsat Nganjuk kini beroperasi bukan sebagai pelayan publik, melainkan jaringan pemerasan sistematis yang dilindungi oleh wewenang itu sendiri.

 

Aturan Negara Dihina, Pemerasan Dijadikan Standar Pelayanan

Tarif resmi yang dipajang hanyalah hiasan dinding yang tak berarti. Di lapangan berlaku aturan lain: siapa yang tidak mau merogoh kocek tambahan, dia yang akan dihukum.

 

- Administrasi yang seharusnya gratis dipatok Rp50.000 hingga Rp150.000;

 

- Validasi STNK lima tahunan dijadikan komoditas dijual Rp100.000 sampai Rp200.000;

 

- Ganti plat nomor dipatok hingga Rp250.000—harga yang dipaksakan dengan ancaman menahan berkas.

 

"Kami sudah setor pajak jutaan rupiah ke kas negara. Kenapa saat hendak mengambil hak kami sendiri, kami harus membayar lagi seperti sedang membayar upeti kepada tuan tanah?" begitu amarah yang tak terucap dari ratusan warga yang diperas setiap hari.

 

Calo Adalah Wajah Terang, Oknum Adalah Dalang Sebenarnya

Jangan pernah percaya ini hanya ulah calo liar. Calo di Samsat Nganjuk bergerak dengan leluasa karena mereka adalah perpanjangan tangan oknum yang duduk di balik meja. Isyarat mata, pembagian antrean, hingga penentuan berkas mana yang boleh lewat—semuanya menunjukkan adanya kesepakatan kotor yang sudah berjalan lama. Uang diserahkan tanpa kuitansi, tanpa jejak, namun nilainya bernilai miliaran rupiah jika dihitung akumulasinya.

 

Melanggar Segala Garis Hukum, Namun Mengapa Tetap Berdiri Tegak?

Praktik ini adalah penghinaan terhadap:

 

1. Undang-Undang: Memungut di luar ketentuan resmi adalah tindak pidana;

 

2. Kode Etik: Mengubah tugas suci menjadi sarana mencari keuntungan pribadi;

 

3. Kepercayaan Rakyat: Mengubah simbol perlindungan menjadi alat pemerasan.

 

Saat Kebenaran Datang, Mereka Lari Bersembunyi

Ketika media datang membawa fakta dan bukti untuk konfirmasi, seluruh pimpinan menghilang. Tak ada yang berani tampil, tak ada yang berani menjawab. Sikap bungkam ini bukan tanda ketidaktahuan—ini adalah pengakuan bersalah secara diam-diam. Mereka tahu apa yang mereka lakukan salah, namun mereka merasa tak tersentuh karena merasa memiliki kekuasaan.

 

Keadilan Tidak Mengenal Pangkat

Kami memperingatkan: Jangan cuma menangkap calo lapangan lalu mengumumkan kasus selesai. Itu adalah penipuan baru. Telusuri siapa yang melindungi, siapa yang menikmati hasil terbesar, dan siapa yang selama ini menutup mata.

 

Samsat Nganjuk bukan milik oknum yang serakah. Ini milik rakyat. Dan kebenaran tidak akan bisa dibungkam hanya dengan cara menutup pintu kantor.

Ad
Sidebar
Wadah Aspirasi
Chat with us on WhatsApp